Gambar Kartun Membaca Menggalakkan Kebudayaan Membaca di Kalangan Kanak-Kanak

Siapa orangtua/guru yang tidak menyukai anak atau siswanya gemar membaca ? Namun dimasa sekarang dapat dikatakan bahwa anak-anak atau para siswa kurang suka membaca. Mereka lebih suka “bermain” alias “play”. Nah, ini ada artikel yang sengaja saya kutip sebagai tips bagi para orangtua / guru di sekolah agar anak-anak dan siswanya di sekolah gemar membaca. Let’s check it down….

Bapak/Ibu rekan guru yang dirahmati Allah. Menurut saya, memberikan lingkungan yang menumbuhkan minat baca akan lebih baik daripada memotivasi siswa yang malas baca. Beberapa cara yang saya rekomendasikan adalah:

BukanMembaca Menggalakkan Kebudayaan Membaca Di Kalangan Kanak Kanak title=Bukan Perpustakaan Biasa style=width:100%;text-align:center; onerror=this.onerror=null;this.src='https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRpn4rWLj0iT0pBE-nVKWZIsaXYT_DczMrnzZ_NYAbuh3BHfPQMg0QB0j7g85z2nx_1xMQ&usqp=CAU'; />

Anak-anak suka meniru. Untuk itu, anda wajib menunjukkan kecintaan anda pada buku. Bawalah buku kemana pun anda pergi dan membacalah setiap ada kesempatan . Pilihlah buku yang sesuai usia siswa, bukan koran, majalah pop, komik, atau novel dewasa.

Pusat Sumber Sinar Buana, Sk All Saints', Kamunting, Perak

Begitu selesai membaca sebuah buku, segera baca buku lain. Berikan sedikit resensi tentang buku-buku yang anda baca untuk menarik minat anak-anak membaca buku yang sama.

Selain kebiasaan membaca, anda bisa menunjukkan kecintaan kepada buku dengan cara membangun sebuah perpustakaan kelas. Setiap anda membaca/menambah koleksi, katakan bahwa anda telah melakukan sesuatu yang istimewa sehingga anda menghadiahi diri anda sendiri dengan sebuah buku yang menarik .

Untuk mengakomodasi siswa yang belum suka membaca, sediakan beberapa buku bergambar, buku-buku tipis dan majalah anak, disamping buku-buku tebal ilmu pengetahuan dan novel anak.

Majalah Literasi Edisi Iv

Setiap hari, sediakan waktu tenang selama 15-20 menit. Waktu tenang ini adalah waktu untuk membaca atau menulis. Bagi siswa yang belum tertarik untuk membaca, mungkin akan memilih untuk menulis dan menghabiskan waktu untuk memikirkan apa yang akan dia tulis. Jangan ditegur (kecuali jika membuat gaduh, Anda sendiri juga harus membaca atau menulis cerita/puisi (bukan mengerjakan urusan administrasi sekolah apalagi sms)

Selain buku-buku komersial, isilah perpustakaan kelas dengan buku-buku karya anda dan siswa siswi anda. Anda bisa mengadakan proyek membuat buku setiap 1, 3, atau 6 bulan sekali.

Buku-buku ini bisa ditulis dengan tangan ataupun komputer. Demikian pula dengan sampul dan gambarnya. Biarkan siswa-siswi anda memilih genre sendiri dan mengemas buku karyanya dengan cara mereka sendiri.

Literasi, Bekal Untuk Berdaya

Anak-anak biasanya lebih penasaran terhadap buku tulisan temannya daripada buku komersial. Jika memungkinkan, anda bisa membuka bazaar yang menjual buku karya siswa siswi anda. Insya Allah kegiatan seperti ini akan mendorong siswa untuk lebih banyak menulis.

Anda bisa membuat sebuah tampilan (display) berisi daftar siswa dan jumlah buku yang dibacanya dalam satuan waktu (per minggu/bulan). Siswa yang membaca buku terbanyak berhak mendapatkan hadiah atau dinobatkan sebagai juara baca.

Acara piknik biasanya identik dengan kebun binatang atau tempat atraksi lainnya. Saya sarankan agar sekolah juga memasukkan kunjungan ke perustakaan daerah/nasional sebagai salah satu ajang piknik.

Gambar

Mengapa Budaya Membaca Buku Sekarang Seakan Dilupakan?

Secara bergiliran setiap hari/minggu, mintalah anak-anak untuk menceritakan buku yang dia baca di depan kelas. Anak-anak biasanya mudah termotivasi untuk membaca buku yang direkomendasikan teman-temannya.

Penghargaan terhadap buku bisa anda tunjukkan dengan cara menjadikan waktu membaca sebagai hadiah . Misalnya, anak-anak yang menyelesaikan tugas sekolah dengan cepat boleh mengambil buku dari perpustakaan kelas.

Mereka pun boleh memilih tempat membacanya, apakah di meja, di lantai, di karpet atau bahkan di bawah pohon (selama masih dalam pengawasan anda). Insya Allah anak-anak akan merasa bahwa membaca adalah sebuah keistimewaan. Semua anak senang melakukan sesuatu yang istimewa.Rintik hujan menyambut kedatangan detikX di Erasmus Huis, Pusat Kebudayaan Belanda, di Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan. Kunjungan kali ini dalam rangka melihat langsung perpustakaan yang tengah naik daun di media sosial itu. Perpustakaan Erasmus Huis dikenal bukan hanya karena koleksi buku Belanda, melainkan juga karena desainnya yang instagramable.

Buku Imam Nawawi Pend Multikultural

Setelah melewati pemeriksaan keamanan, petugas mengarahkan untuk menuju jalan ke perpustakaan. Tak sulit menemukannya karena petunjuk arah begitu jelas. Perpustakaan Erasmus Huis tersembunyi di balik pintu kaca.

Begitu menginjakkan kaki di dalam, suasana perpustakaan begitu hening. Kaki spontan berjinjit saking tak ingin mengusik ketenangan. Terlihat beberapa orang duduk di meja. Mereka sibuk dengan laptop masing-masing. Keheningan perpustakaan begitu kontras dengan jalan HR Rasuna Said yang tengah macet-macetnya, Selasa, 4 Februari 2020, siang, itu.

InfoPublik

Perpustakaan ini dijamin akan membuat siapa saja terkesima. Nuansa warna putih dan cokelat memberikan kesan modern dan minimalis. Koleksi 14 ribu buku berjejer rapi di rak buku berwarna cokelat yang menjulang tinggi.

Pdf) Menumbuhkan Literasi Pada Anak? Kenapa Tidak

Disediakan pula tangga putih untuk memudahkan pengambilan buku di rak atas. Buku-buku beraneka genre disusun berdasarkan huruf depan nama pengarang. Meskipun didominasi buku berbahasa Belanda, ada pula buku berbahasa Indonesia dan Inggris. Bahkan ada beberapa judul buku karya Pramoedya Ananta Toer dan Ayu Utami dalam bahasa Belanda.

Di dekat pintu masuk perpustakaan, terlihat seorang ibu sedang melayani pengunjung. Sesekali ia bicara dalam Bahasa Belanda. Rina Tjokorde sudah bekerja di perpustakaan ini lebih dari 33 tahun. Perpustakaan ini sebetulnya sudah berdiri sejak tahun 1970-an. Namun, setelah direnovasi pada 15 November 2018, pengunjung kembali berdatangan, terutama kaum milenial. Belakangan ini ramai sekali anak muda, mungkin pengaruh dari pemberitaan di media dan sosial media juga, kata Rina.

Ruangan yang dingin serta tersedianya wifi gratis membuat pengunjung betah berlama-lama. Perpustakaan Erasmus Huis juga dijadikan tempat kerja yang tenang dan nyaman. Seperti halnya perpustakaan, pengunjung dapat meminjam tiga buku dalam waktu tiga minggu. “Pembuatan kartu anggota untuk kalangan umum dikenakan biaya Rp 30 ribu, sementara untuk mahasiswa atau pelajar dikenakan biaya Rp 15 ribu.”

Dasar Galakan Membaca

Melalui akun Instagram @sintiawithbooks yang diikuti 14, 1 ribu followers, Sintia Astarina ikut mempopulerkan Perpustakaan Erasmus Huis. Sebagai penggemar buku, Sintia memang kerap berburu perpustakaan kece di Jakarta. “Orang selama ini tahunya Perpustakaan Nasional saja, padahal banyak banget perpustakaan lain yang keren. Aku sengaja bikin bookstagram ini buat sharing tentang rekomendasi buku, toko buku, dan perpustakaan, “ tutur Sintia yang juga aktif menulis di blog sintiaastarina.com.

Penyebab

Kalau bepergian ke luar kota, Sintia juga selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi toko buku unik atau perpustakaan. Sebelum mengenal perpustakaan kece, Sintia awalnya hanya mengunjungi perpustakaan jika ada kebutuhan tertentu. Seperti halnya mencari referensi untuk menyelesaikan skripsi atau sekedar numpang kerja. Ia sempat berkunjung ke perpustakaan di Universitas Indonesia, Depok, untuk menuntaskan skripsi. Tapi pandangannya berubah semenjak tahu ada banyak perpustakaan umum di Jakarta.

Perpustakaan kini juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas untuk menarik minat pengunjung. Seperti ketika Sintia mengunjungi Perpustakaan Goethe-Institut Jakarta yang terletak di Menteng. Di sini pengunjung tak hanya dapat membaca buku, mereka juga bisa belajar bahasa dan kebudayaan Jerman dengan lebih variatif dan interaktif.

Pelancaran Nilam & Minggu Pss 2021

“Perpustakaan bukan cuma untuk baca buku atau ngerjain tugas. Di Goethe ada fasilitas buat belajar Bahasa Jerman. Bukan cuma dari buku tapi juga dalam bentuk permainan seperti game board dan playstation. Aku nggak nyangka Goethe ternyata se-pewe itu, ” ungkap Sintia yang pernah mendapatkan kesempatan mengunjungi The Habibie dan Ainun Library. Perpustakaan milik Presiden Republik Indonesia ke-3 itu belum dibuka untuk umum.

Melalui akun bookstagram miliknya, Sintia juga ingin muncul inisiatif dari individu baru buat berbagi informasi mengenai banyak perpustakaan. Bahwa ternyata perpustakaan bukan cuma dimiliki negara, tapi ada perpustakaan pribadi yang dibuka untuk umum. “Pemerintah juga lagi menggalakkan membaca buku di transportasi umum, ada ruang baca dan segala macam. Tapi dari kita juga jangan nunggu pemerintah gerak duluan tapi kayak usaha bikin komunitas baca, macam-macam, sih, ” katanya.